(Foto ilustrasi dari AI)
Oleh : MULYADI
INFOJALANAN.COM – Saat ini banyak masyarakat Indonesia yang mempermasalahkan peringkat desil yang menurutnya tidak sesuai dengan keadaan ekonomi mereka, ada yang peringkat desilnya tinggi padahal tingkat ekonomi mereka bisa dikatakan dibawah standar atau kurang mampu, atau sebaliknya keluarga yang secara kasat mata memang memiliki tingkat ekonomi tinggi malah masuk dalam desil peringkat bawah.
Bagi masayarakat kelas bawah yang masuk peringkat desil tinggi sudah pasti akan berusaha secepat mungkin memperbaiki peringkat desilnya dengan melakukan sanggahan pada pemerintah agar bantuan sosial yang selama ini mereka terima tidak hilang begitu saja karena kesalahan dalam menentukan peringkat desil.
Tapi sebaliknya bagi masyarakat yang ekonominya bisa dibilang tinggi, saat mengetahui peringkat desilnya ada pada peringkat bawah, mungkin mereka tidak akan mengalami kepanikan seperti yang dialami oleh masyarakat dengan ekonomi bawah yang memang masih membutuhkan bantuan sosial dari pemerintah.
Di negara kita saat ini, pengelompokan desil dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial atau DTKS) digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan ekonomi suatu rumah tangga. Semakin tinggi angka desilnya, desil 6 sampai 10, maka orang tersebut dianggap semakin kaya atau mampu secara ekonomi.
JANGAN LEWATKAN :
Mau Dapat Bansos? Segera Daftar Lewat Agen,,,
Benarkah Ada Kesalahan Dalam Peringkat Desil
Seseorang dengan keadaan ekonomi yang dianggap kurang mampu, tapi memiliki peringkat desil tinggi belum tentu itu terjadi karena suatu kesalahan dari input pemerintah, bisa saja penilaian tersebut sebenarnya memang sudah akurat tapi tidak disadari oleh yang bersangkutan.
Seperti yang terjadi pada salah satu warga yang berdomisili dikecamatan Cibeunying Kaler kota Bandung, sebut saja Budi. Dalam kesehariannya pria 35 tahun dengan satu istri dan tiga orang anak yang selama ini berprofesi sebagai driver ojol dan tinggal dirumah kontrakan kecil di wilayah Jalan Cikutra ini sedang mengalami permasalahan seperti diatas.
Secara ekonomi keluarga Budi selama ini memang termasuk dalam kategori keluarga yang layak menerima bantuan sosial dari pemerintah, sejak PHK yang dia terima 4 tahun lalu sampai saat ini dia masih tetap mencari nafkah sebagai driver ojol.
Dan selama itu pula dia selalu mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, baik itu bantuan sembako, uang tunai dan juga bantuan Pendidikan buat anaknya yang masih besekolah dari kartu KIP Pendidikan, tapi itu semua terancam akan terhenti sejak munculnya sistem peringkat dalam desil.
Beberapa bulan lalu Budi kaget saat melihat peringkat desil keluarganya masuk dalam peringkat desil 9, hal itu berarti semua bantuan sosial dari pemerintah untuk keluarganya terancam hangus karena peringkat desilnya yang tinggi. Esoknya Budi langsung melakukan sanggahan pada pemerintah melalui aplikasi dan dibantu oleh petugas dari kewilayahan.
Hasilnya desil Budi tidak berubah, setelah menunggu dalam waktu beberapa bulan Budi mendapat informasi bahwa peringkat desilnya tidak bisa diturunkan karena dalam catatan pemerintah Budi diketahui memiliki dua buah mobil dengan harga mencapai ratusan juta rupiah.
Kenyataannya Budi hanya memiliki satu buah motor dengan kondisi tahun yang sudah lumayan tua yang selama ini dia pakai mencari nafkah bertahun-tahun sebagai driver ojol. Singkat cerita Budi baru sadar bahwa dia pernah meminjamkan KTP pada temannya saat transaksi pembelian sebuah mobil dan bukan hanya sekali tapi dua kali temannya membeli mobil menggunakan KTP nya.
Peminjaman KTP untuk kepemilikan mobil (atas nama) dipastikan menjadi penyebab utama desil Budi menjadi tinggi. Berikut adalah penjelasan mengapa hal ini bisa terjadi dan juga dampaknya :
Mengapa Peminjaman KTP Bisa Menaikkan Desil?
Pajak Progresif & Data Samsat Terintegrasi : Saat ini, data kepemilikan kendaraan bermotor di Samsat sudah terintegrasi dengan data kementerian sosial atau lembaga daerah. Sistem membaca bahwa pemilik KTP tersebut secara legal memiliki aset mewah (mobil).
Dianggap Mampu Secara Finansial : Dalam sistem penilaian kemiskinan/kesejahteraan, kepemilikan mobil adalah salah satu red flag atau indikator mutlak bahwa rumah tangga tersebut masuk kategori mampu/mewah, tidak peduli siapa yang sebenarnya mengendarai atau mencicil mobil tersebut.
Dampak Buruk Bagi Pemilik KTP
Kehilangan Hak Bantuan Sosial (Bansos) : Karena dianggap masuk desil tinggi (mampu), pemilik KTP akan otomatis dicoret dari daftar penerima bansos seperti PKH, BPNT, atau KIP Kulit/KIP Sekolah.
Pajak Progresif yang Membengkak : Jika di kemudian hari pemilik KTP asli ingin membeli kendaraan sendiri, ia akan terkena tarif pajak progresif yang jauh lebih mahal karena dianggap memiliki lebih dari satu kendaraan.
Risiko Finansial & Hukum : Jika mobil tersebut terlibat pelanggaran lalu lintas (e-TLE), terkena tilang elektronik, atau digunakan untuk tindak kejahatan, maka pemilik KTP asli yang akan dikejar oleh pihak kepolisian atau hukum.
Memperhatikan hal diatas, resiko meminjamkan KTP kita pada orang lain untuk membeli sebuah kendaraan pada saat ini bukan hanya beresiko pada hal-hal yang tidak diinginkan bila sesuatu terjadi pada kendaraan tersebut (kecelakaan atau digunakan untuk melakukan sebuah tindak pidana). Tapi resiko lain yang pasti akan kita terima bila kita termasuk pada kelompok masyarakat yang menerima bantuan sosial dari pemerintah adalah hangusnya bantuan tersebut karena dianggap ekonomi kita sudah berada pada level tinggi.
JANGAN LEWATKAN :
Data Desil KIP Kuliah, Sistem dan Waktu Jerat Siswa Miskin,,,
Trik “Ketuk Pintu” di Lingkungan Kelurahan Cikutra, Sales Keliling Kelabuhi,,,
Untuk itu sebagai masyarakat yang masih membutuhkan bantuan sosial dari pemerintah usahakan untuk menjaga dan mengamankan kartu identitas kita dari hal-hal yang bisa mempengaruhi penilaian pemerintah pada peringkat desil kita, dan ingat bila desil kita tinggi terbalik dengan ekonomi kita yang kurang mampu, kejadian ini belum tentu kesalahan dalam input pemerintah, atau bisa juga itulah kondisi data kita yang sebenarnya, mungkin saat itu kita hanya malas menengok kebelakang untuk mengingat-ingat apa yang pernah kita lakukan pada KTP kita.
Jaga identitas anda dengan baik, desil tinggi belum tentu ada kesalahan pada pemerintah, mungkin itu semua terjadi adalah dampak dari ketidak bijakan kita dalam menjaga KTP dan identitas keluarga kita.
